Kamis, 28 Mei 2015

SERI TAUJIHAT PEKANAN KADER PKS - TADHHIYAH (PENGORBANAN)

TADHHIYAH (PENGORBANAN)

Tadh-hiyah berasal dari kata bahasa Arab; dhahha-yudhahhi-tadh-hiyah, yang berarti pengorbanan. Di dalam beramal jama'i pengorbanan mempunyai kedudukan yang sangat urgen, oleh karena itu Imam Hasan Al Banna memasukkannya ke dalam salah satu rukun baiat setelah rukun fahm, ikhlas, amal dan jihad. Beliau berkata:
yang saya maksud dengan pengorbanan adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan pengorbanan. Demi fikrah kita janganlah engkau mempersempit pengorbanan karena sungguh ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah. Barangsiapa bersantai-santai saja ketika bersama kami, maka ia berdosa

"Sesungguhnya Allah membeli dari kaum mukminin diri dan harta mereka, bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan surga" (Q.S. At-Taubah 9:111)

"Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir akan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal adalah lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Q.S. At-Taubah 9:24)

Dengan demikian engkau mengetahui makna slogan abadimu: Gugur di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.

Pengorbanan dan jihad merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, namun menurut Said Hawa ada perbedaan antara jihad dan pengorbanan. Kadang-kadang keduanya seiring dan kadang-kadang keduanya saling menyempurnakan. Oleh karena itu Imam Hasan Al Banna menjadikannya rukun tersendiri. Karena di tempat mana dikumandangkan jihad maka di sana ada pengorbanan. Dan jihad yang sempurna tidak akan terwujud kecuali dengan pengorbanan yang sempurna pula.

Sungguh banyak kisah dalam sejarah kehidupan manusia yang dapat menjadi bukti dan contoh tentang pengorbanan, baik dalam kisah orang-orang terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW, maupun kisah pengorbanan beliau dan sahabatnya dalam sirah dan kisah-kisah perjuangan umat sesudahnya sampai saat ini.

Perhatikan sejarah Nabi Nuh 950 tahun waktunya dua korbankan untuk menyeru kaumnya untuk berbakti dan beribadah kepada Allah, tapi tidak ada yang menghiraukan seruannya kecuali sedikit, dan bahkan istri dan putranya sendiri tidak beriman kepadanya.

Perhatikan pula kisah pengorbanan sahabat mulia Mush'ab bin Umair. Ia adalah seorang pemuda bangsawan Quraisy, gagah, ganteng, kaya dan terhormat. Namun beliau mengorbankan semua kehormatannya di masa jahiliyyah menuju kehormatan di masa islam, walaupun harus berpisah dengan keluarganya. Bahkan ibu yang sangat mencintainya mengancam akan bunuh diri apabila putranya tetap memeluk agama Islam. Namun sang Mush'ab si pemuda ganteng dan perlente itu tetap memilih Islam, sehingga menemukan syahadah di perang Uhud. Saat itu beliau hanya memakai sehelai baju yang sekaligus menjadi kafannya, yang apabila wajahnya ditutup maka kakinya tersingkap, dan apabila kakinya ditutup maka wajahnya terbuka. Karena dengan pengorbanan itulah Mush'ab menggapai cinta Allah dan menghuni taman-taman syurga serta diiringi 70 bidadari.

Demikian pula kisah pengorbanan ulama kontemporer terkemuka, Sayyid Qutb. Ia mengorbankan ilmu, hidup dan harta dan bahkan kedudukan terhormat sebagai menteri pendidikan yang dijanjikan Presiden Gamal Abdul Nasr apabia ingin merubah prinsip-prinsipnya. Tetapi sesuatu yang telah menjadi prinsip hidup bagi Sayyid tetap menjadi prinsip walaupun harus mengalami penyiksaan di penjara dan menjemput syahadah di tiang gantungan.

Itulah beberapa kisah pengorbanan tokoh-tokoh sejarah kemanusiaan. Dan sejarah manusia yang masih akan berlangsung sampai hari kiamat akan selalu mencatat dan meminta para pelaku sejarah yang berani mengorbankan diri, harta, waktu dan segala yang ia miliki dalam rangka mempertahankan kebenaran.

Nah dalam konteks kekinian, sungguh banyak di hadapan kita peluang untuk berkorban, terutam karena kebenaran telah terdominasi oleh kejahatan, jumlah pelaku kebenaran jauh lebih sedikit dari jumlah pelaku kejahatan. Dan pelaku kebenaran jauh lebih lemah dari berbagai kekuatan yang dimiliki para pelaku kejahatan: kekuatan politik, ekonomi,fisik dan lain sebagainya ada di tangan mereka.

Tapi jangan berkecil hati dulu. Karena sumber kekuatan mereka adalah sumber kekuatan kita juga, yaitu Allah SWT. Allah merupakan kekuatan yang sesungguhnya. Dan Allah akan bersama kita, apabila kita ingin mengikuti jalannya para Rasul, yatiu berjuang dan berkorban merebut kekuatan-kekuatan mereka. Berjuang memperbanyak jumlah pelaku kebaikan, sehingga pada gilirannya kebenaran akan menjadi jaya dan sebaliknya kebatilan akan runtuh. Walaupun dalam perjuangan itu banyak harta yang habis serta jiwa yang gugur, tetapi sejarah kemanusiaan akan mencatatnya sebagai buah bibir generasi-generasi mendatang dan Allah akan memberinya kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Agar menjadi jelas, sesungguhnya Indonesia negeri yang kita cintai ini sedang dikuasai dan diperintah oleh orang-orang yang tamak dan mementingkan kepentingan diri, keluarga dan kelompokman sesaat mereka. Oleh karena itu wajib berjihad dengan mengorbankan segala yang kita miliki untuk menyelamatkan negeri dan bangsa ini dari ambang kehancuran. Menyelamatkan negeri dan bangsa ini adalah menyelamatkan negeri dan umat Islam karena sesungguhnya pemilik negeri dan bangsa ini adalah umat Islam itu sendiri,dan saya, anda, saudara, keluarga, tetangga dan masyarakat kita adalah bagian dari umat Islam. Wallahu a'lam




Sabtu, 23 Mei 2015

SANTAPAN ROHANI - MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

MENSyukurI NIKMAT ALLAH


Ketika nabi Sulaiman as. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau mengatakan,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS An-Naml 40). Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali  dari hasil kehebatan ilmuku.” (QS Al-Qashash 78).

Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman as mendapatkan karunia di dunia dan akhirat. Sedangkan Qarun, mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan nikmat Allah.

Demikianlah bahwa fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, syuhada dan shalihin (QS 4: 69-70). Golongan kedua mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal dan para pengikut mereka dari masa ke masa.  

Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah. (QS An Nahl 112)

NiKmat Allah
Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (QS 14: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah)  dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang selama 31 kali, “ Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghitungnya.  Dari awal  sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah merinci nikmat-nikmat itu.

Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang. Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk manusia. Dan menciptakan mausia dari bahan baku yang paling baik untuk dijadikan mahluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang kekal. Disana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Sarana Hidup ( Wasa-ilul Hayah)
Sungguh Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia. Marilah kita sadar akan nikmat itu dan menysukurinya dengan sepenuh hati. Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada nikmat yang lain yang harus disyukuri manusia, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Cobalah renungkan ! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada dihadapannya adalah sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat melihat keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan ! Bagaimana jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan ! Jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta, tuli dan gila. Maka hidupnya dihabiskan di rumah sakit, menjadi beban yang lainnya. Demikianlah nikmat penglihatan, pendengaran dan akal. Demikianlah nikmat sarana kehidupan (wasail al-hayat).

Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)
Sekarang apa jadinya jika manusia itu diberi karunia oleh Allah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan akal untuk berfikir. Kemudian mata itu tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, telinga tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah dan akal tidak digunakan untuk mengimani dan memahami ayat-ayat Allah. Maka itulah seburuk-buruknya mahluk, mereka itu seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang. (QS Al-A’raaf 179)

Demikianlah, betapa besarnya nikmat petunjuk Islam (hidayatul Islam) dan pedoman hidup (manhajul hayah).  Nikmat ini lebih besar dari seluruh harta dunia dan seisinya. Nikmat ini mengantarkan orang-orang beriman dapat menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan dan terang benderang. Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.

Al-Qur’an banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang secara umum dan  binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing, keledai, kera dan babi (QS, 7: 176, 62:5, 8: 55, 5:60). Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan kepala (67: 22), buta dan tuli (5:71), jatuh dari langit dan disambar burung (22: 31) kayu yang tersandar (63:4 ) dan lainnya. 


Pertolongan (An-Nashr)
Ada satu bentuk kenikmatan lagi yang akan Allah berikan kepada orang-orang beriman disebabkan mereka  komitmen dengan manhaj Allah dan berdakwah untuk menegakkan sistem Islam, yaitu  pertolongan Allah, “ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu(QS Muhammad 7).

Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan dan tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat (ta’yiid), rizki yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan (al-istikhlaaf), pengokohan agama (tamkinud-din) dan berbagai macam bentuk pertolongan Allah yang lain (QS Al-Anfaal  26, as-Shaaf 10-13 dan An-Nuur 55).

Segala bentuk kenikmatan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun gabungan antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal. Dan dalam bersyukur kepada Allah harus memenuhi rukun-rukunnya.

Rukun Syukur

Para ulama menyebutkan bahwa rukun syukur ada tiga, yaitu I’tiraaf (mengakui), tahaddust (menyebutkan) dan Taat.

Al-I’tiraaf
Pengakuan bahwa segala nikmat dari Allah adalah suatu prinsip yang sangat penting, karena sikap ini muncul dari ketawadhuan seseorang. Sebaliknya jika seseorang tidak mengakui nikmat itu bersumber dari Allah, maka merekalah orang-orang takabur. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Allah saja. “ Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Fathir 15).

Dalam kehidupan modern sekarang ini, orang-orang sekuler menyandarkan segala sesuatunya pada kemampuan dirinya dan mereka sangat menyakini bahwa kemampuannya dapat menyelesaikan segala problem hidup. Mereka sangat bangga terhadap capaian yang telah dirah dari peradaban dunia, seolah-olah itu adalah hasil kehebatan ilmu dan keahlian mereka. Pola pikir seperti sama dengan pola pikir para pendahulu mereka seperti Qarun dan sejenisnya. “ Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali  dari hasil kehebatan ilmuku” (QS Al-Qashash 78).

Dalam konteks manhaj Islam, pola pikir seperti inilah yang menjadi sebab utama masalah dan problematika yang menimpa umat manusia sekarang ini. Kekayaan yang melimpah ruah di belahan dunia barat hanya dijadikan sarana pemuas syahwat, sementara dunia Islam yang menjadi wilayah jajahannya dibuat miskin, menderita dan terbelakang. Sedangkan umat Islam dan pemerintahan di negeri muslim yang mengikuti pola hidup barat kondisi kerusakannya hampir sama dengan dunia barat tersebut bahkan mungkin lebih parah lagi.

I’tiraaf adalah suatu bentuk pengakuan yang tulus dari orang-orang beriman bahwa Allah itu ada, berkehendak dan kekuasaannya meliputi langit dan bumi. Semua mahluk Allah tidak ada yang dapat lepas dari iradah (kehendak) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

At-Tahadduts
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan” (QS Ad-Duhaa 11).

Abi Nadhrah berkata, “ Dahulu umat Islam melihat bahwa diantara bentuk syukur nikmat yaitu mengucapkannya”. Rasul saw. bersabda, “ Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih pada manusia” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Berkata Al-Hasan bin Ali, “ Jika anda melakukan (mendapatkan) kebaikan, maka ceritakan kepada temanmu”. Berkata Ibnu Ishak, “ Sesuatu yang datang padamu dari Allah berupa kenikmatan dan kemuliaan kenabian, maka ceritakan dan dakwahkan kepada manusia.

Orang beriman minimal mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah) ketika mendapatkan kenikmatan sebagai refleksi syukur kepada Allah. Demikianlah betapa pentingnya hamdalah, dan Allah mengajari pada hamba-Nya dengan mengulang-ulang ungkapan Alhamdulillah dalam Al-Qur’an dalam mengawali ayat-ayat-Nya.

Sedangkan ungkapan minimal yang harus diucapkan orang beriman, ketika mendapatkan kebaikan melalui perantaraan manusia, mengucapkan pujian dan do’a, misalnya, Jazaakallah khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu). Disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas ra, bahwa kaum Muhajirin berkata pada Rasulullah saw. ,”Wahai Rasulullah saw orang Anshar memborong semua pahala”. Rasul saw. bersabda,” Tidak, selagi kamu mendo’akan dan memuji kebaikan mereka” .

Dan ucapan syukur yang paling puncak ketika kita menyampaikan kenikmatan yang paling puncak yaitu Islam, dengan cara mendakwahkan kepada manusia.

At-Tha’ah
Allah menyebutkan bahwa para nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling bersyukur dengan melaksanakan puncak ketaatan dan pengorbanan.  Dan contoh-contoh tersebut sangat nampak pada 5 Rasul utama, nabi Nuh as, nabi Ibrahiim as, nabi Musa as, nabi Isa as dan nabi Muhammad saw. Allah SWT. Menyebutkan tentang Nuh as. “Sesungguhnya dia (Nuh as) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur (QS Al-Israa 3).

Dan lihatlah bagaimana  Aisyah ra menceritakan tentang ketaatan Rasulullah saw. Suatu saat Rasulullah saw. melakukan shalat malam sehingga kakinya terpecah-pecah. Berkata Aisyah ra.,” Engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang ?!.  Berkata Rasulullah saw, “ Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur ? “ (HR Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan dari Atha, berkata, aku bertanya pada ‘Aisyah, “ Ceritkan padaku sesuatu yang paling engkau kagumi yang engkau lihat dari Rasulullah saw .!” Aisyah berkata, “ Adakah urusannya yang tidak mengagumkan ! Pada suatu malam beliau mendatangiku dan berkata,” Biarkanlah aku menyembah Rabbku”. Maka beliau bangkit berwudhu dan shalat. Beliau menangis sampai airmatanya mengalir didadanya, kemudian ruku dan menangis, kemudian sujud dan menangis, kemudian mengangkat mukanya dan menangis. Dan beliau tetap dalam kondisi seperti itu sampai Bilal mengumandangkan adzan shalat” . Aku berkata, “ Wahai Rasulullah saw. apa yang membuat engkau menangis padahal Allah sudah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang? “ Rasul saw. berkata,” Tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur ? (HR Ibnul Mundzir Ibnu Hibban, Ibnu Mardawaih dan Ibnu ‘Asakir ).

Tambahan NiKmaT

Refleksi syukur yang dilakukan dengan optimal akan menghasilkan tambahan nikmat dari Allah (ziyadatun ni’mah), dalam bentuk keimanan yang bertambah (ziyadatul iman), ilmu yang bertambah, (ziyadatul ‘ilmi), amal yang bertambah (ziyadatul amal),  rezeki yang bertambah (ziyadatur rizki) dan akhirnya mendapatkan puncak dari kenikmatan yaitu dimasukan ke dalam surga dan dibebaskan dari api neraka. Demikianlah janji Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim 7, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

sumber : materi halaqoh

SANTAPAN ROHANI - KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN

KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR’AN

1.   Al Qur’an adalah Kalamullah 
       a.Kitab yang Mubarak (diberkahi) QS. 6 : 92
       b.Menunun kepada jalan yang lurus Qs. 17 : 9 
       c.Tidak ada sedikitpun kebatilan di dalamnya QS. 41: 42

2.   Membaca Al Qur'an adalah sebaik-baik amal perbuatan.
      Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan AL Qur'an" HR Al Bukhariy           dari Utsman bin Affan.

3.   Al Qur'an akan menjadi syafi' penolong di hari kiamat.
      Rasulullah bersabda : Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat " HR           Muslim dari Abu Umamah.

4.   Beserta para malaikat yang mulia di hari kiamat.
      Sabda Nabi : "Orang yang membaca Al Qur'an dan dia lancar membacanya akan bersama para malaikat yang mulia           dan baik. Dan orang yang membaca Al Qur'an  dengan terbata-bata, ia mendapatkan dua pahala " Muttafaq alaih dari         Aisyah ra.

5.   Aroma orang beriman.
Sabda Nabi : "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur'an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat.....

6.   Penyebab terangkatnya kaum. 
      Sabda Nabi : "Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan         kitab ini pula" HR Muslim dari Umar bin Khatthab.

7.   Turunnya rahmah dan sakinah.
      Sabda Nabi : "Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan                       mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah         akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. HR. At Tirmidziy dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan           Abu Said.

8.   Memperoleh kebajikan yang berlipat ganda.
      Dari Ibnu Mas'ud ra berkata : Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah,             maka ia akan memperoleh satu hasanah (kebajikan). Dan satu hasanah akan dilipat gandakan menjadi sepuluh, saya           tidak katakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi ali satu hurf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. HR At Tirmidziy

9.   Bukti hati yang terjaga/melek.
      Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun           dari Al Qur'an, maka ia bagaikan rumah kosong.
HR At Tirmidziy.  

Referensi

Riyadhssolihin.

Senin, 18 Mei 2015

SANTAPAN ROHANI - MENILAI SEBUAH KEJUJURAN



KEJUJURAN adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti jujur. Kalau tidak jujur, keimanannya sedang diserang penyakit munafik.


Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah mungkin seorang mukmin itu kedekut?”
Baginda menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?” Rasulullah SAW menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak.” (HR Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa’)

Apa yang boleh dipelajari daripada hadis ini ialah seorang mukmin tidak mungkin melakukan pembohongan.
Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia. Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuran.

Oleh sebab itu, Allah menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan berlaku jujur. Ini diperintah oleh Allah melalui firman-Nya yang bermaksud:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur dan benar. (al-Ahzab: 70)

Rasulullah SAW bersabda:
“Kamu semua wajib bersikap jujur kerana kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada syurga”. (HR Ahmad, Muslim, at-Tirmizi, Ibnu Hibban)

Kejujuranlah yang menjadikan Ka’b bin Malik mendapat keampunan langsung dari langit sebagaimana Allah jelaskan dalam surah at-Taubah. Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim daripada seksa api neraka di kemudian hari.

Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlak, dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia.

Di sinilah pentingnya kejujuran bagi kehidupan. Rasulullah SAW bersabda:
“Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan-akan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.” (HR Abu Dunya)

Ada tiga tingkatan kejujuran :
  • Pertama, kejujuran dalam ucapan, iaitu kesesuaian ucapan dengan realiti.
  • Kedua, kejujuran dalam perbuatan, iaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
  • Ketiga, kejujuran dalam niat, iaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah.
Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapan, perbuatan, tindakan dan keputusan harus berlandaskan mencari keredaan Allah.

Jelaslah kejujuran memainkan peranan penting dalam kehidupan seorang Islam yang ingin mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Seorang yang jujur tidak akan berdolak-dalik apatah lagi bermain kata-kata apabila berhadapan dengan sesuatu perkara. Jika dia berada di pihak yang benar sudah pasti dia tidak akan takut untuk menzahirkan kejujuran atas keyakinan bahawa kebenaran pasti mengalahkan kebatilan.

Kejujuran inilah yang mendorong Umar Ibnul-Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah sehingga pernah berkata, “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: “Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?”


Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat memerlukan manusia-manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, mahupun niat.

Sumber: Materi Halaqah

Sabtu, 16 Mei 2015

SANTAPAN ROHANI - DZIKIR

DZIKIR

1.  Makna Dzikir
Setiap muslim pasti sudah mengetahui  dan memahami bahwa  dzikir  itu merupakan sesuatu yang sangat penting dan besar faedahnya, dimana dzikir merupakan amal yang efektif  yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di surat Al-Ahzab: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang hari”.
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk banyak bedzikir kepada-Nya; karena pada hakikatnya seorang hamba memang sangat perlu berdzikir mengingat Allah. Bahkan merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Ada sebuah perumpamaan bagi orang yang selalu berdzikir seperti orang yang dikejar musuh dan ia bersegera berlindung di sebuah benteng  yang kokoh, sehingga berhasil menyelamatkan diri dari ancaman musuh.  Orang yang selalu berdzikir insya Allah aman dari gangguan syetan dan dijaga dari mengikuti hawa nafsu yang tidak baik, bukankah ia berada dibenteng yang kokoh yaitu penjagaan Allah SWT.
Pengertian dzikir bisa berarti mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya, baik secara lisan maupun di dalam hati. Seperti banyak menyebut Subhanallah wabi hamdihi subhanallah al ‘azim
Dua kalimat diatas seperti yang disabdakan Rasulullah saw merupakan kalimat yang ringan di ucapkan oleh lisan tapi sangat berat timbangan dan sangat dicintai oleh Allah.  Sebagaimana Nabi bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ فِي الِّلسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ مَحْبُوْبَتَانِ إِلىَ الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ

“Dua kalimat yang begitu ringan diucapkan lisan dan sangat berat ditimbangan serta dangat disukai oleh Allah SWT yang Maha Pengasih, adalah Subhanallah wabihamdihi subhanallah hil adzim”. 
Dan berdzikir juga bisa berarti mengingat Allah dalam berbagai keadaan,  bagaimanapun keadaannya ia tetap mengingat Allah. Ia selalu merasa dilihat dan diawasi segala gerak geriknya oleh Allah. Sehingga dimanapun berada ia tidak berani melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Contoh : Puasa, ketika kita berpuasa kita menahan lapar dan haus serta  menahan dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Hal ini kita lakukan setiap hari sampai satu hulan di bulan romadhan. Puasa melatih  pikiran dan hati kita untuk memahami  bahwa Allah mengetahui segala perbuatan yang kita lakukan. Dengan demikian kita  tidak berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.  Inilah makna dzikir kepada Allah .
Allah SWT berfirman :
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلىَ جُنُوْبٍهٍمْ
“(Yaitu) Mereka yang berdzikir (mengingat) kepada Allah saat berdiri, duduk dan saat berbaring”. (Ali Imron :  

2.  Hakikat Dzikir
Dzikir dan seluruh amal shalih sangat erat kaitannya dengan ketenangan bathin. Dan ketenangan bathin itu sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan hidup. Seorang salafushalih yang tinggal sendirian di tengah padang pasir pernah ditanya, “Apakah engkau tidak merasa terancam? Ia mengatakan, “Apakah ada orang yang merasa terancam dan khawatir bersama Allah?” jawabnya. Tak jauh maknanya dengan apa yang diungkapkan oleh Muslim bin Yasar, yang mengatakan, “Tak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan sendiri menghadap Allah dalam sepi (berkhalwat).”
Rumah orang yang melakukan dzikrullah akan bercahaya bak bintang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah saw bahwa Allah akan menerangi rumah orang yang berdzikir hingga rumah itu akan terllihat oleh penduduk langit. “Sesungguhnya penghuni langit melihat rumah-rumah ahli dzikir yang diterangi oleh dzikir mereka. Sinar itu bercahaya seperti bintang bagi penduduk bumi,” ucap Rasulullah saw. Tepatlah jawaban imam Hasan al Bashri saat ditanya seorang pemuda, “Kenapa orang yang gemar melakukan shalat tahajjud wajahnya enak dipandang?” Ia mengatakan, “Bagaimana tidak, mereka telah berkhalwat dengan yang Maha Pengasih kemudian Allah pasti memberikan cahaya-Nya pada orang tersebut.”
Lihatlah betapa ketenangan yang dirasakan oleh Abu Bakar bin Ayash, salah seorang tokoh Tabi’in. Ketika menjelang maut, ia berkata pada anaknya, “Apakah engkau mengira Allah akan menyia-nyiakan ayahmu yang selama empat puluh tahun sudah mengkhatamkan Al Qur`an hampir setiap malam?” Sementara itu, Adam bin Iyas, tokoh Tabi’in yang lain, ketika akan meninggal mengatakan, “Dengan cintaku kepada-Mu, Engkau pasti menemaniku pada saat ketakutan.” Ia mengucapkan, “Laaa ilaaha illa Llah…” kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir….
Sebaik-baik perbuatan yang dapat dilakukan seseorang dalam nafas hidupnya, paling bermanfaat waktu yang diluangkan adalah berdzikir kepada Allah SWT, apalagi di iringi dengan berdoa kepada-Nya, karena yang demikianlah hidup menjadi bermakna dan waktu menjadi berharga, jiwa yang kian hari beretambah menjadi berbobot, bahkan memiliki aspek kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kelapangan dalam setiap gerak dan aktivisnya, dzikir merupakan kunci segala kebaikan hamba didunia dan diakhirat.
Tidak dipungkiri bahwa Nabi saw sebagai pemberi nasehat umatnya, memberikan warisan yang baik seperti mahajjah baidla (kuda putih) yang cemerlang, jalan yang jelas dalam menuntun pengikutnya untuk berdzikir dan berdoa, menuntun segala kebaikan di dunia dan akhirat, tidak ada yang baik kecuali beliau telah memberikan dalil (petunjuk) nya, memotivasi untuk bermulazamah dengannya. Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّم حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
“Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, sangat belas kasih terhadap penderitaan kalian, bersemangat atas kalian untuk beriman, pemaaf dan kasih sayang”. (At-taubah : 128)
هُوُ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّيْنَ رَسُوْلاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِهِ وَيُرَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَقِيْ ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ
 “Dialah (Allah) yang telah mengutus ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari kalian, membacakan kepada kalian ayat-ayat-Nya, membersihkan jiwa kalian dan mengajarkan kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka sebelumnya dalam keadaan sesat yang nyata”. (Al-Jumu’ah : 2)

3.   Perintah kewajiban berdzikir

Dzikir merupakan kewajiban hamba kepada Allah SWT, karena dengan berdzikir seorang hamba akan selalu ingat Allah dan kewajiban yang harus dijalankan dari mengingat Allah. Sebgaimana berdzikir juga merupakan kewajiban karena dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, dzikir merupakan ibadah yang mudah dilakukan tidak memiliki syarat yang berat seperti amal ibadah yang lainnya. Adaun diantara dalil kewajiban berdzikir adalah beberapa firman Allah berikut ini :
Allah berfirman :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu” (Al-Baqoroh : 152)
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Dan sungguh dzikir kepada Allah adalah lebih besar (pahala dan manfaatnya)”. (Al-Ankabut : 45)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
“Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang banyak dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Al-Ahzab : 41-42)

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Dan orang-orang yang berdzikir laki-laki dan berdzikir dari wanita maka Allah siapkan bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar”. (Al-Ahzab : 35)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
“Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan banyak dan bertasbihlah pada waktu pagi dan petang”. (Ali Imron : 41)
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
“Mereka yang berdzikir kepada Allah pada saat berdiri, duduk dan berbaring”. (Ali Imron : 191)
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“Maka jika kalian telah selesai menunaikan ibadah kalian maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang tua kalian (sebelumnya) atau lebih banyak dzikirnya (dari mereka)”. (Al-Baqoroh : 200)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta dan anak-anak kamu membuat kamu lalai dari berdzikir kepada Allah”. (Al-Munafiqun : 9)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada-Nya ucapan-ucapan yang baik itu akan naik dan perbuatan shalih akan meninggikan derajatnya”. (Fathir : 10)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
 “Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam diri kamu dengan penuh ketundukan dan rasa takut dan tanpa dikeraskan dari ucapan (tersebut) pada saat pagi dan petang dan janganlah kemu menjadi orang yang lalai”. (Al-A’raf : 205)

4.  Pembagian Dzikir
Orang-orang mempunyai bashiroh (mata hati) mengetahui bahwa dzikir merupakan amalan paling utama. Akan tetapi dzikir juga mempunyai empat lapisan kulit. Ada kulit yang lebih dekat dengan biji daripada kulit  yang lain, karena dibalik kulit-kulit itu ada biji (intisari). Kulit-kulit itu dimuliakan karena merupakan jalan menuju biji. Lapisan kulit teratas (pertama) adalah dzikir lisan saja. Yang kedua adalah dzikir hati. Bila ia selaras dengan dzikir lisan, maka ia akan hadir bersama dzikir. Bila hati dibiarkan bersama karakternya, niscaya ia berkeliaran melayang-layang di alam fikiran (lamunan). Lapisan ketiga, dzikir harus bisa menguasai hati, sehingga perlu memaksanya agar tidak beralih kepada lainnya sebagaimana pada lapisan kedua diperlukan adanya pemaksaan hati agar dzikir tetap bersamanya. Lapisan keempat adalah esensi dzikir, yaitu bila Allah menjadi objek dzikir betul-betul tertanam kuat di dalam hati. Bahkan dzikir itu sendiri sirna dan tersembunyi. Itulah esensi dzikir yang dimaksud. Hal itu disebabkan ia tidak lagi memperhatikan dzikir maupun hati akan tetapi ia hanya mengingat Allah yang disebutnya. Bila dalam kondisi ini masih terdapat indikasi adanya perhatian terhadap dzikir, maka sebenarnya hal itu justru merupakan hijab yang menyibukkan. (40 prinsip agama-sepuluh prinspi dasar amal-amal lahiriyah, Imam Al-Ghazali, hal 70)
Dzikir mencakup tujuan hidup sebenarnya, tujuan yang tinggi, yang memiliki kebaikan, manfaat, berkah, faedah yang banyak dan nilai positif yang tidak mungkin disepelekan atau disia-siakan begitu saja. Yang berjalan diatasnya akan mendapatkan ketenangan, keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan, berbeda dengan dzikir dan doa yang dibuat-buat oleh orang lain, kadang terkandung didalamnya beban, pertentangan, bid’ah atau syirik dan lain-lainnya dari kesalahan dan kesesatan yang dilakukan oleh orang yang tidak memberikan hidayah untuk kehidupan manusia, bisa saja dzikir tersebut benar namun dzikir yang ma’tsur seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw lebih baik, lebih lurus dan lebih sempurna, apalagi bagi pelakunya akan mendapatkan ganjaran yang besar, meraih kebaikan yang berlimpah, dan mendappatkan keutamaan yang beragam; didunia dan diakhirat. Maka dari itu,barangsiapa yang rajin membaca dzikir dan doa pada waktu-waktu dan keadaan yang berbeda sesuai dengan arahan dan ajaran dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah saw; saat dipenghujung waktu shalat, waktu pagi dan sore, saat akan tidur dan setelah bangun dari tidur, saat akan pergi dan keluar dari rumah dan lain sebagainya maka akan ditulis oleh Allah sebagai ahli dzikir yang banyak kepada Allah dan akan diberikan ganjaran yang terbaik dan ampunan dari Allah SWT.

5.   Adab-adab dzikir :
a.       Dilakukan dengan penuh khusu’ dan khidmat.
b.      Hendaknya menggunakan bacaan yang ma’tsur baik ayat ataupun hadits nabi saw.
c.       Tidak dilakukan dengan tergesa-gesa dan cepat.
d.      Sebaiknya dalam keadaan (bersuci) berwudlu
e.       Memulai dengan tahmid, tasbih dan tahlil kemudian shalawat nabi.
f.       Dilakukan dengan suara yang tidak keras dan tidak terlalu pelan.

6.   Keutamaan berdzikir
Dzikir merupakan perbuatan yang sangat penting dalam kehidupan insan. Dengannya justru kehidupan insan akan lebih bermakna dan tidak sia-sia, dzikir akan dapat melanggengkannya untuk selalu taat kepada Allah, merasa selalu diawasi dan selalu berada dalam naungan-Nya. Sebagaimana dzikir juga akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati dan jiwa kita, serta akan memberikan keselamatan hidup kita baik di dunia dan diakhirat.
Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28 :

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
            “Ketahuilah bahwasanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram”
Adapun keutamaan dzikir adalah sebagai berikut :

a.                  Orang yang berdzikir hatinya selalu hidup

عَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مِثْلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ » . متفق عليه .
وَلَفْظُ مُسْلِمٍ : « مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لاَ يَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ مِثْلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ » . رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Musa Al- Asy’ari ra berkata : Nabi saw bersabda : Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati”. (Muttafaqun alaih)
Dan dalam lafadz riwayat imam Muslim : “Perumpaan rumah yang didalamnya berdzikir kepada Allah dan rumah yang didalamnya tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang hidup dan orang yang mati”.

b.            Orang yang berdzikir akan mendapat naungan dan rahmat dari Allah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : « لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ » . رواه مسلم

Dan dari Au Hurairah ra dan Abu Said ra keduanya menyaksikan bahwa Nabi saw telah bersabda : “Tidaklah duduk suatu kaum yang berdzikir kepada Allah kecuali para malaikat mengelillingi mereka, rahmat meliputi mereka dan turun ketegnanan atas mereka, dan Allah akan selalu menyebutnya pada siapa yang ada disisi-Nya”. (HR. Muslim)

c.   Orang yang berdzikir menjadi orang yang istimewa disisi Allah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيْرُ فِي طَرِيْقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جَمْدَان فَقَالَ : سِيْرُوا هَذَا جَمْدَان ، سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ. قَالُوْا : وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ » . رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra berkata : Saat Rasulullah saw berjalan disuatu simpang kota Makkah lewatlah sekelompok orang yang dinamakan jamdan, beliau bersabda : “Berjalanlah wahai Jamdan, telah berlalu Al-Mufarridun”. Mereka bertanya : Apa yang anda maksud dengan al-Muafarridun wahai Rasulullah ? beliau bersabda : “Mereka yang selalu berdzikir kepada Allah dengan banyak baik laki-laki dan perempuan”. (HR. Muslim)

a.      Allah akan kabulkan segala permohonan

وَعَنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ للهِ مَلاَئِكَةٌ ، يَطُوْفُوْنَ فِي الطَّرُقِ يَلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَنَادُوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، قَالَ : فَيَحْفَوْنَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، قَالَ : فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ : مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيَحْمَدُوْنَكَ وَيُمَجِّدُوْنَكَ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ عَزَّ وَجَلَّ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأَوْكَ كَانُوْا أَشَدُّ لَكَ عِبَادَةً ، وَأَشَدُّ لَكَ تَمْجِيْدًا ، وَأَكْثَرُ لَكَ تَسْبِيْحًا ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْأَلُوْنِي ؟ قَالَ : يَسْأَلُوْنَكَ الْجَنَّةَ ، قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبُّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ : يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : كَانُوْا أَشَدُّ عَلَيْهَا حِرْصًا ، وَأَشَدُّ لَهَا طَلَبًا ، وَأَعْظَمُ فِيْهَا رَغْبَةً ، قَالَ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : مِنَ النَّارِ ، قَالَ : يَقُوْلُ : وَهَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ، قَالَ : يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : كَانُوْا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا ، وَأَشَدُّ لَهَا مَخَافَةً ، قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ . قَالَ : يَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ : فِيْهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ ، قَالَ : فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : هُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ » . رواه البخاري ومسلم

Dan dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bahwa memiliki malaikat yang selalu berkeliling dijalan-jalan mencari orang yang berdzikir, jika mereka mendapati kaum yang sedang berdzikir kepada Allah maka mereka menyeru : Marilah kemari sampaikan kebutuhan kalian, dia berkata : kemudia mereka pergi dengan sayap mereka menuju langit dunia, beliau berkata : mereka meminta kepada Tuhan mereka, dan Allah lebih mengetahui dari mereka bertanya : Apa yang dilakukan hamba-hamba-Ku ? mereka berkata : mereka sedang bertasbih, bertakbir, bertahmid dan memuji-Mu, Nabi berkata : sekiranya mereka meliahtmu pasti mereka akan lebih giat lagi beribadah dan memuji-Mu, akan lebih benyak bertasbih, beliau berkata : Allah bertanya : Apa yang mereka minta ? mereka menjawab : mereka meminta kepada-Mu surga. Beliau berkata : Allah berkata : Apakah mereka telah melihatnya ?Beliau berkata : mereka berkata : Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya, beliau berkata : Allah berkata : bagaimana sekiranya mereka melihatnya ? beliau berkata : mereka berkata : pasti mereka lebih semangat melakukan dan memintanya, dan besar keinginan untuk menggapainya, beliau berkata : lalu terhadap apa mereka memohon perlindungan ? beliau berkata : mereka berkata : dari api neraka, beliau berkata : Allah berkata : Apakah mereka melihatanya ? beliau berkata : mereka menjawab : tidak demi Alalh wahai Tuahn mereka tiedak pernah melihatnya, baliau bersabda : Allah berkata : bagaimana sekiranya mereka melihatnya ? Beliau bersabda : mereka menjawab : mereka pasti akan cepat lari dan lebih takut, beliau bersabda : Allah berkata : Maka saksikanlah sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka. Beliau bersabda : salah dari para malaikat berkata : diantara mereka ada Fulan bukan dari mereka, mereka hadir karena suatu kebutuhan,  beliau bersabda : Allah berkata : Mereka ikut duduk dengan mereka dan tidak akan celaka mereka yang duduk diantara mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

b.            Amalan yang dapat meneguhkan jiwa dan diri

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : « أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ . قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رُطَبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ » . رواه الترمذي وابن ماجه. )أتشبث به : أي أستمسك به (.
Dari Abdullah bin basar ra : bahwa seseorang berkata kepada Rasul, wahai Rasulullah ! sesunggunya syariat Islam telah banyak atasku, beritahukan kepadaku apa yang harus saya pegang teguh dengannya. Beliau bersabda : “Hendaknya lisanmu selalu basah dari berdzikir kepada Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

f.    Allah membanggakannya dihadapan para malaikat
وَعَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : « خَرَجَ مُعَاوِيَةٌ عَلَى حَلَقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ : مَا أْجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوا : جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ . قَالَ : آللهُ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوا : وَاللهِ مَا أَجْلَسْنَا إِلاَّ ذَاكَ ، قَالَ : أَمَّا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفَكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلُّ عَنْهُ حَدِيْثًا مِنِّي ، وَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ : " مَا أَجْلَسَكُمْ ؟ قَالُوا : جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلاَمِ وَمَنْ بِهِ عَلَيْنَا . فَقَالَ : آللهُ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلاَّ ذَاكَ ؟ قَالُوْا : وَاللهِ مَا أَجْلَسْنَا إِلاَّ ذَاكَ ، قَالَ : أَمَّا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفُكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَلَكِنَّهٌ أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلاَئِكَةَ » . رواه مسلم. قَوْلُهُ : " تُهْمَةً لَكُمْ " أَيْ : شَكًّا فِي صِدْقِكُمْ.

Dari abu Sa’id Al-Khudriyyi ra berkata : suatu ketika Muawiyah keluar menuju halaqah yang ada didaam masjid, dia berkata : Apa yang kalian duduk disini ? mereka berkata : kami duduk berdzikir kepada Allah. Dia berkata : Apakah hanya Allah yang membuat kalian duduk bukan yang lainnya ? mereka berkata : Demi Allah tidak ada tujuan lain kami duduk kecuali itu.  Dia berkata : saya tidak pernah menuduh kalian, tidaklah salah seorang berada ditempat Rasulullah saw lebih sedikit mendapatkan hadits dariku, dan ketika  Rasulullah saw keluar menuju halaqah para sahabat, beliau berkata : Apa yang kalian lakukan duduk disini ? Kami duduk berdzikir kepada Allah, memuji Allah atas hidayah yang telah diberikan kepada kami dan seseorang yang dengannya kami mendapat hidayah. Beliau berkata : Apakah karena Allah kalian duduk bukan yang lain ? mereka berkata : demi Allah kami duduk karena Allah bukan yang karena yang lain, beliau berkata : Saya tidak menuduh kalian yang bukan-bukan, namun telah datang kepadaku Jibril  dan mengabarkan kepadaku bahwa Allah membanggakan kedudukan kalian ditengah para malaikat” (HR. Muslim) beliau berkata : tuduhan maksudnya adalah ragu akan ucapan kalian.

g.  Allah akan mengingat melebihi orang yang mengingat-Nya

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٌ مِنْهُ » . رواه البخاري ومسلم.
Dari abu Hurairah ra berkata : nabi saw bersabda ; Allah SWT berfirman : “Saya berada menurut dugaan hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika berdzikir kepada-Ku, jika dia berdzikir dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia berdzikir didalam sekelompok orang maka Aku akan mengingatnya disekelompok yang lebih baik dari mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)



h.            Ibadah yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya disisi Allah.

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ ، وَأَرْفَعَهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تُلْقُوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى ، قَالَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى » . رواه الترمذي وابن ماجه. الْوَرَقُ : الْفِضَّةُ .
Dari Abu Darda ra berkata : Rasulullah bersabda : “Maukah aku beritahukan sebaik-baik perbuatan, lebih bersih dan suci dihadapan Tuhan kalian dan labih tinggi derajatnya, dan lebih baik dari berinfaq dengan emas dan perak, bahkan lebih baik dari kalian berjumpa dengan musuh lalu kalian penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian (syahid) ? mereka berkata : Tentu, Nabi bersabda : Dzikir kepada Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sumber : Materi Halaqoh